Pengalaman Kursus Bioetika

Fakultas Kedokteran > Berita > Pengalaman Kursus Bioetika

Etika didefinisikan sebagai kajian/cabang ilmu tentang tata nilai moral (baik-buruk, benar- salah, patut-tidak patut) yang menentukan perilaku, keputusan, ataupun hubungan antar manusia. Sedangkan “Bioetika” merupakan salah satu bagian dari etika terapan yang berada di ranah biologi,  dan diantara cabang biologi itu, bidang kesehatanlah yang paling berkembang konsep etikanya, sehingga sering dianalogikan dengan “clinical ethics/medical ethics” dan dimaknai sebagai “good clinical practices”.  Dalam kajian yang terus berkembang, Bioetika diartikan sebagai ilmu multi disiplin yang menggabungkan filsafat (etika) kemanusiaan (humanities) dengan ilmu-ilmu biologi dalam arti luas.

Dokter adalah profesi yang dimuliakan sejak awal sejarah keberadaannya, karena adanya  nilai-nilai moral yang dipegang teguh oleh para pelaku profesinya.  Diawali adanya sumpah Hippokrates yang dijadikan inspirasi komitmen profesi seorang dokter, yang kemudian terus berkembang hingga melahirkan kaidah-kaidah dasar bioetika kedokteran. Konsep bioetika yang diterima cukup luas di kalangan profesi dokter saat ini adalah “Principles of Biomedical Ethics” oleh Tom L Beauchamps dan James F Childress. Ada 4 prinsip (kaidah dasar) bioetika yang dikemukakan oleh Beauchamps dan Childress yakni, 1. Melakukan yang terbaik (memaksimalkan ikhtiar untuk mencapai kebaikan), 2. Menghindari/meminimalkan bahaya, 3. Menghormati pemilik hak, 4. Keadilan. 

Seorang dokter dalam melaksanakan aktivitas profesionalnya wajib memegang taguh kaidah-kaidah dasar bioetika tersebut. Oleh karenanya Bioetika menjadi materi yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan dokter, termasuk di Fakultas Kedokteran Unisma. Sejak masa awal berdirinya, FK Unisma telah membentuk Unit Bioetika Kedokteran Islam, Hukum & HAM (BKIHH), yang bertanggungjawab meng-input konsep-konsep bioetika dan kedokteran Islam ke dalam program pembelajaran.  Melalui BKIHH inilah konsep-konsep bioetika kedokteran Islam diintegrasikan ke dalam blok pembelajaran dalam bentuk kuliah dan CSL (Clinical Skills Learning). Di kurikulum terbaru (2018) FK Unisma saat ini terdapat 27 topik kuliah dan 3 topik CSL yang terintegrasi pada 24 blok pembelajaran. 

Bioetika merupakan cabang ilmu yang terus berkembang seiring dinamika berbagai bidang keilmuan, termasuk bidang kesehatan.  Problematika etik bidang kesehatan juga terus menerus berkembang dan tak jarang memunculkan dilemma etik yang tidak mudah dipecahkan.  Untuk merespon fakta dinamika tersebut sekaligus menyiapkan calon dokter yang antisipatif terhadap realita profesi yang akan dihadapi saat lulus nanti, FK Unisma melakukan peningkatan dan penguatan kapasitas dosen di semua bidang (termasuk bioetika) secara periodik dan kontinyu. Peningkatan dan pemutakhiran (up grading & up dating) pengetahuan serta wawasan dosen menjadi keniscayaan bagi institusi pendidikan yang terus maju berkembang seperti FK Unisma ini.

Penulis adalah salah satu dosen bidang bioetika yang telah dan sedang mendapat kesempatan up grading & up dating dengan mengikuti kursus Bioetika di luar negeri dan dalam negeri. Kursus bioetika yang telah diikuti adalah “Excecutive Course on Islamic Medical Ethics pada tanggal 13-19 Maret tahun 2013 di Cyberjaya University College of Medical Science (CUCMS), Selangor Malaysia.  Penulis bertiga bersama dr. H Marindra Firmansyah, M.Med.Ed. dan dr.Hj Erna Sulistyowati, M.Kes,Ph.D. mengikuti kursus tersebut dengan pembiayaan dari program Health Professional Education Quality (HPEQ). 

Seperti diketahui, FK Unisma mendapat hibah program pengembangan institusi HPEQ tahun 2012-2014 senilai 13 milyar untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Dana tersebut telah dimanfaatkan untuk beragam aktivitas, meningkatkan berbagai sarana dan prasarana, termasuk pengembangan sumber daya manusia (dosen dan tenaga kependidikan). Di  akhir program tersebut FK Unisma mendapat apresiasi dari Pemerintah sebagai pelaksana program HPEQ terbaik se Indonesia.

Kursus bioetika yang saat ini sedang diikuti oleh penulis adalah Certified Courses on Bioethics for Health Professionals dengan pendekatan HELP (Humanity-Ethical-Legal-Professional) angkatan ke 5. Kursus ini diselenggarakan oleh Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) Fakultas Kedokteran, UGM Yogyakarta, sebanyak 6 seri.  Seri 1 dan 2 telah dilaksanakan pada tahun 2019, tepatnya 24-26 Juli 2019 dan 23-25 Okt. 2019. Seri-seri selanjutnya direncanakan terselenggara pada tahun 2020 ini dengan selang waktu penyelenggaraan sekitar 3 bulanan. Penulis berharap dapat mengikuti keseluruhan seri dengan lengkap sehingga mendapat pemahaman yang komprehensif tentang materi bioetika yang disampaikan.

Sebanyak 6 seri kursus bioetika di UGM ini meliputi tema-tema yang cukup menarik yakni, 1). The Basic Understanding of Bioethics; 2). Basic Medical Ethics; 3). Bioethics in Health Services 1 (Beginning of & During Live); 4).  Bioethics in Health Services 2 (End of Live); 5). Bioethics in Health Research; 6). Bioethics and Education.  Dari dua seri yang telah diikuti, penulis mendapat beberapa konsep baru yang tengah berkembang di bidang bioetika, antara lain konsep “The New Sense of  Bioethics”.  Konsep ini dikemukakan oleh Prof. Soenarto Sastrowijoto, dkk. dari CBMH-UGM, tahun 2014.  Kaidah dasar bioetika yang dikemukakan mirip dengan prinsip bioetika dari Beauchamps &  Childress, dengan tambahan satu kaidah yaitu prinsip “Ke-Tuhan-an atau Iman”, sehingga ada 5 kaidah Bioetika yakni : 1). Beliefe in God or Faith, 2). Respect for others (all God’s creation: Human, animal, plants, and environment), 3). Beneficence, 4). Non maleficence, 5. Social justice for allThe new sense of Bioethics ini dapat dikatakan sebagai konsep bioetika Indonesia karena digagas oleh pakar bioetika Indonesia dan digali dari falsafah bangsa yang ber-Ketuhanan.  Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler, sehingga tidak bisa memisahkan keyakinan ke-Tuhanan dari kehidupan. Dengan demikian, universalitas bioetika tidak hanya berimplikasi di kehidupan duniawi semata, tetapi diyakini juga berimplikasi di kehidupan ukhrawi (pasca mati).  Dapat disimpulkan bahwa, Ber-etika itu baik untuk kehidupan sekarang maupun “nanti”. Akhirnya penulis berharap pengalaman dan kepesertaan di kursus bioetika ini menjadi bagian kontribusi positif dalam upaya mengembangkan Fakultas Kedokteran Unisma yang lebih baik. Amiin.

oleh : Muhammad Zainul Fadli, drh, MKes.
Unit BKIHH FK Unisma.

Leave a Reply