ECBA–VSA International Mobility Program and Social Engagement Project bersama Mahasiswa KSM-T International FK Unisma di Songkhla, Thailand

Penulis: Dhiya Syafina

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) merupakan wadah bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat. Melalui skema KSM-T International, pengabdian tersebut dibawa ke lingkup lintas negara, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar memahami kebutuhan masyarakat, tetapi juga berlatih berkomunikasi, beradaptasi, dan bekerja sama dengan mitra dari latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda.

Gambar 1 (Foto bersama seluruh peserta di depan pusat kegiatan lansia Subdistrik Koh Taeo, Songkhla)

Pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mahasiswa KSM-T International Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang mengikuti ECBA–VSA International Mobility Program and Social Engagement Project di Provinsi Songkhla, Thailand. Kegiatan ini melibatkan Faculty of Economics and Business Administration (ECBA) Thaksin University dan VSA (Volunteer Service Abroad). Rangkaian kegiatan berlangsung pukul 09.00 hingga 13.30 waktu setempat dan terdiri dari sambutan pembukaan di Thaksin University, kunjungan ke pusat kegiatan lansia di Subdistrik Koh Taeo, pengenalan produk komunitas berbahan serat pisang, serta workshop menganyam serat pisang bersama para lansia. Setiap sesi memberikan pengalaman belajar yang berbeda, mulai dari pertukaran akademik antarkampus hingga interaksi langsung dengan masyarakat setempat.

1. Sambutan dan Pembukaan di Thaksin University

Kegiatan diawali pukul 09.00 di Co-working Space, lantai 1 Gedung 18, Thaksin University. Pada sesi ini, jajaran pimpinan Faculty of Economics and Business Administration menyampaikan sambutan selamat datang kepada seluruh peserta. Sambutan tersebut menjadi pembuka yang hangat sekaligus menegaskan bahwa program mobilitas internasional tidak berhenti pada kunjungan antarkampus, tetapi dilanjutkan dengan keterlibatan sosial bersama masyarakat.

Setelah sesi pembukaan, pada pukul 09.30 peserta berkumpul di area tepi danau Thaksin University untuk naik kendaraan yang telah disiapkan. Perjalanan menuju lokasi kegiatan ditempuh sekitar 30 menit, dan rombongan tiba di Subdistrik Koh Taeo pada pukul 10.00.

2. Kunjungan ke Pusat Kegiatan Lansia Koh Taeo

2.1 Latar Belakang Lokasi Kegiatan

Lokasi yang dikunjungi adalah Quality of Life Development and Occupational Promotion Center for the Elderly atau Pusat Pengembangan Kualitas Hidup dan Promosi Pekerjaan bagi Lansia di Subdistrik Koh Taeo. Sesuai namanya, pusat ini menjadi tempat para lansia tetap aktif, belajar, dan mengembangkan keterampilan yang bernilai ekonomi. Di tempat ini pula berlangsung kegiatan sekolah lansia, bagian dari program peningkatan kualitas hidup dan pembelajaran sepanjang hayat bagi lansia Koh Taeo.

Setibanya di lokasi, pada pukul 10.15 koordinator proyek menyampaikan sambutan dan menjelaskan tujuan kegiatan. Penjelasan ini membantu peserta memahami bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar melihat hasil kerajinan, melainkan belajar langsung dari para lansia sebagai pemilik keterampilan dan pelaku utama kegiatan komunitas.

2.2 Aktivitas Mahasiswa di Pusat Kegiatan Lansia

a. Pengenalan Produk Komunitas

Sesi pertama adalah presentasi produk komunitas berupa tas dari serat pisang. Serat ini berasal dari batang semu pohon pisang, bagian tanaman yang umumnya tidak dimanfaatkan lagi setelah buahnya dipanen. Setelah dikeringkan dan dibelah menjadi helaian panjang, bahan tersebut dapat dianyam menjadi berbagai produk. Melalui presentasi ini, mahasiswa melihat bagaimana bahan yang sering dianggap limbah dapat diolah menjadi produk bernilai jual sekaligus ramah lingkungan. Sesi kemudian diselingi rehat dan kudapan pada pukul 10.30, yang dimanfaatkan peserta untuk berbincang santai dengan warga dan rekan dari Thailand.

b. Workshop Menganyam Serat Pisang

Kegiatan inti dimulai pukul 10.45, yaitu workshop menganyam produk serat pisang. Peserta duduk mengelilingi meja panjang yang dipenuhi helaian serat pisang kering. Para lansia mendampingi langsung di meja, memperlihatkan cara menyusun helaian dasar, lalu menganyamnya melingkar sedikit demi sedikit hingga terbentuk wadah berbentuk keranjang kecil.

Gambar 2 (Helaian serat pisang kering dan anyaman yang sedang dikerjakan peserta)

Gambar 3 (Suasana workshop menganyam serat pisang bersama para lansia dan peserta dari Thailand)

Sebagian peserta menggunakan cetakan di bagian dalam untuk menjaga bentuk anyaman, sementara botol semprot tersedia di atas meja untuk melembapkan serat agar tetap lentur dan tidak mudah patah saat dianyam. Menganyam ternyata menuntut ketelitian, kesabaran, dan koordinasi tangan yang baik. Kerapatan anyaman harus dijaga agar bentuknya tidak miring, dan peserta beberapa kali perlu mengulang bagian yang kurang rapi. Meskipun terdapat perbedaan bahasa, proses belajar tetap berjalan lancar karena para lansia mengajar dengan cara memperagakan langsung, dan peserta menirukannya langkah demi langkah.

c. Rangkuman Kegiatan dan Foto Bersama

Pada pukul 11.30, kegiatan ditutup dengan rangkuman kegiatan dan sesi foto bersama di halaman depan pusat kegiatan lansia. Peserta dari Indonesia dan Thailand, para lansia, serta pendamping berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Acara dilanjutkan dengan makan siang pada pukul 12.00, kemudian rombongan berangkat kembali pada pukul 13.00 dan tiba di Thaksin University pada pukul 13.30.

d. Refleksi Pembelajaran

Bagi mahasiswa kedokteran, kunjungan ini memberi gambaran nyata tentang konsep lansia aktif (active ageing). Kesehatan lansia tidak hanya ditentukan oleh pengobatan, tetapi juga oleh kesempatan untuk tetap bergerak, belajar, bersosialisasi, dan merasa bermanfaat bagi lingkungannya. Kegiatan menganyam melibatkan gerak halus tangan, konsentrasi, dan interaksi sosial dalam satu aktivitas yang sekaligus menghasilkan produk. Pengalaman ini mengingatkan bahwa upaya promotif dan preventif di komunitas dapat berangkat dari kegiatan sederhana yang dekat dengan keseharian masyarakat.

3. Rangkaian Kegiatan

Seluruh kegiatan pada 17 Agustus 2026 berjalan sesuai jadwal yang telah disusun panitia, sebagaimana dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 1 (Jadwal ECBA–VSA International Mobility Program and Social Engagement Project, 17 Agustus 2026)

WaktuKegiatan
09.00Sambutan selamat datang dari jajaran pimpinan ECBA di Co-working Space, lantai 1 Gedung 18, Thaksin University.
09.30Berkumpul di area tepi danau Thaksin University untuk naik kendaraan.
10.00Tiba di Quality of Life Development and Occupational Promotion Center for the Elderly, Subdistrik Koh Taeo.
10.15Sambutan koordinator proyek dan penjelasan tujuan kegiatan.
10.20Presentasi produk komunitas (tas serat pisang).
10.30Rehat dan kudapan.
10.45Workshop menganyam produk serat pisang.
11.30Rangkuman kegiatan dan foto bersama.
12.00Makan siang.
13.00Perjalanan kembali ke Thaksin University.
13.30Tiba kembali di Thaksin University.

4. Peran Komunitas Lansia dalam Pemberdayaan Ekonomi dan Pelestarian Kearifan Lokal

Pengalaman di Koh Taeo memperlihatkan bahwa lansia dapat menjadi penggerak ekonomi kreatif di komunitasnya. Dengan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, mereka menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan sekaligus mengurangi limbah pertanian. Keterampilan menganyam yang diwariskan dari generasi ke generasi pun tetap terjaga karena terus dipraktikkan dan diajarkan kepada generasi muda, termasuk kepada mahasiswa dari negara lain.

Keterlibatan perguruan tinggi dan lembaga relawan dalam kegiatan seperti ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara kampus dan masyarakat. Kampus memperoleh ruang belajar yang nyata bagi mahasiswanya, sedangkan komunitas memperoleh dukungan, pengakuan, dan jejaring yang lebih luas untuk mengenalkan produknya.

5. Kesimpulan

Kegiatan ECBA–VSA International Mobility Program and Social Engagement Project pada 17 Agustus 2026 memberikan pengalaman belajar yang luas bagi mahasiswa KSM-T International FK Unisma. Mahasiswa memperoleh:

  • Wawasan akademik dan jejaring internasional melalui sambutan dan pertemuan dengan sivitas akademika Thaksin University
  • Pemahaman tentang pemberdayaan lansia dan produk komunitas melalui pengenalan kerajinan serat pisang di Koh Taeo
  • Keterampilan praktis serta pengalaman sosial dan budaya melalui workshop menganyam bersama para lansia

Pengalaman ini menanamkan pemahaman yang lebih dalam tentang lansia aktif, partisipasi komunitas, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan kegiatan serupa bagi masyarakat di Indonesia.