DPL : Yoyon Arif Martino, S.SI, M. Kes.
Nur mentari M. Adam (22301101006), Nadia Dzanuba Aulia (22301101055)
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Malang
Agustus 2026

Tim Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Malang (UNISMA) bersama relawan Prince
of Songkla University (PSU) menggelar kegiatan pendampingan psikososial dan penyuluhan
kesehatan bagi warga Thanon Sakhon Mongkhon 2, Hat Yai, Provinsi Songkhla, pada Minggu
(16/8/2026). Kawasan ini merupakan salah satu permukiman yang terdampak luapan Sungai U-Tapao
saat banjir besar melanda Hat Yai pada November 2025.
Banjir tersebut tercatat sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah Hat Yai. Kota ini diguyur hujan
hingga 335 mm dalam sehari, curah hujan harian tertinggi dalam sekitar tiga abad, dan genangan di
sejumlah area mencapai 2 meter. Hingga 1 Desember 2025, Kementerian Kesehatan Masyarakat
Thailand mengonfirmasi 170 korban jiwa di delapan provinsi selatan, 140 di antaranya di Songkhla.
Menurut warga Thanon Sakhon Mongkhon 2, air di lingkungan mereka saat itu sampai
menenggelamkan rumah.
Bencana seperti ini meninggalkan dua ancaman bagi penyintasnya, yaitu tekanan psikologis dan risiko
penyakit menular. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa hampir tiga dari sepuluh penyintas banjir
mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD). Atas dasar itu, tim ini merancang kegiatan yang
menggabungkan dukungan psikososial dan edukasi kesehatan.
Sekitar 30 warga mengikuti kegiatan tersebut. Acara disisipkan dalam pertemuan rutin warga yang
memang sudah berjalan, sehingga tim tidak perlu membentuk struktur baru. Kegiatan dibuka dengan
sesi berbagi pengalaman. Dalam sesi ini, warga menceritakan kesan dan pelajaran dari banjir, serta
solusi yang bisa dilakukan jika banjir kembali terjadi. Obrolan santai ini menjadi bentuk dukungan
sosial yang mempererat ikatan antarwarga.
Suasana makin cair ketika warga dan relawan bermain kertas-batu-gunting, permainan sederhana yang
bisa dinikmati tanpa terhalang perbedaan bahasa. Setelah itu, peserta mengikuti dua sesi senam. Sesi
pertama adalah Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) dari Indonesia. Sesi kedua adalah senam Thailand,
dan kali ini warga setempat yang menjadi pengajarnya. Peran ini menunjukkan bahwa warga tidak
hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga turut aktif memberi dukungan bagi sesamanya.

Gambar 1. Senam SKJ dan Senam Thailand
Kegiatan ditutup dengan penyuluhan kesehatan tentang sanitasi, penyakit yang kerap muncul setelah
banjir, serta cara pencegahannya. Penyakit yang dibahas antara lain leptospirosis, diare seperti kolera
dan disentri, serta hepatitis A dan E. Tim memberi perhatian khusus pada leptospirosis karena
risikonya lebih tinggi bagi warga yang tinggal di dekat sungai, dan kasusnya umumnya meningkat dua
hingga enam minggu setelah banjir. Warga juga diajak menerapkan langkah pencegahan sederhana,
seperti menyediakan air bersih, mengolah dan menyimpan air dengan aman, membersihkan rumah
dengan disinfektan, serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Materi disampaikan dengan
bahasa sederhana agar mudah dipahami warga.
Kepedulian mahasiswa KSM-T FK UNISMA tidak berhenti di komunitas U-Tapao. Tim lain juga
mengunjungi Yensira Building, rumah singgah di lingkungan Songklanagarind Hospital, Prince of
Songkla University, Hat Yai. Gedung ini didirikan rumah sakit bersama Songklanagarind Foundation
dan Khok Nao Temple untuk menampung pasien berekonomi lemah atau pasien dari provinsi jauh,
terutama pasien kanker yang harus menjalani radioterapi dan kemoterapi setiap hari. Selama
berminggu-minggu, pasien dan keluarga pendampingnya tinggal di sana, jauh dari rumah dan
lingkungan asal mereka.
Kegiatan di Yensira diawali dengan berkeliling gedung bersama pengelola. Mahasiswa diperlihatkan
kamar-kamar tempat pasien dan keluarga tinggal selama masa pengobatan, beserta fasilitas
pendukung di dalamnya, seperti sebutkan fasilitas yang dilihat, misalnya ruang perawatan, dapur,
ruang bersama, atau tempat ibadah. Dari penjelasan pengelola, mahasiswa mengetahui bahwa Yensira
tidak sekadar menyediakan tempat tidur. Gedung ini memberikan perawatan dasar, rasa aman, dan
kenyamanan bagi penghuninya, sekaligus menjadi tempat pasien bertemu teman senasib untuk saling
bertukar cerita dan cara menghadapi masalah sehingga tidak merasa kesepian.
Di lingkungan Yensira juga terdapat pengelola dan relawan yang membantu penghuni. Relawan dari
rumah sakit, yang sebagian besar merupakan perawat, memberikan informasi dan konsultasi
mengenai perawatan kesehatan bagi pasien yang menjalani radioterapi. Peneliti dari Prince of Songkla
University bahkan pernah mengembangkan model perawatan paliatif khusus bagi pasien radioterapi di
Yensira, yang mendampingi pasien sejak sebelum masuk, selama menjalani terapi, hingga menjelang
pulang. Meski begitu, penelitian yang sama mencatat bahwa jumlah tenaga kesehatan dan petugas di
sana masih belum sebanding dengan kebutuhan penghuni. Kondisi inilah yang membuat kehadiran
relawan dan kegiatan pendampingan, termasuk dari mahasiswa, tetap dibutuhkan.
Pengobatan yang panjang membawa beban tersendiri, tidak hanya bagi pasien tetapi juga bagi
keluarga yang mendampingi. Penelitian pada pasien kanker yang menjalani radioterapi di Thailand
Selatan menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mengalami keluhan fisik, dan lebih dari
separuhnya mengalami nyeri maupun sulit tidur. Sementara itu, keluarga pendamping yang tinggal di
Yensira kerap merasa terisolasi dari keluarga dan lingkungan asal, khawatir terhadap kondisi pasien,
serta merasa terbebani oleh peran sebagai pendamping.
Setelah berkeliling, kegiatan difokuskan pada kehadiran dan kebersamaan. Mahasiswa menyapa
pasien dan keluarga satu per satu, mengajak mereka berbincang, mendengarkan cerita, dan
memberikan semangat. Bagi sebagian penghuni, kesempatan untuk bercerita kepada orang yang mau
mendengarkan menjadi selingan yang berarti di tengah jadwal pemeriksaan dan terapi yang padat.

Mahasiswa KSM-T International FK UNISMA bersama relawan dan pengelola Yensira Building
Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan melukis tas kain (painting cloth bags). Pasien,
keluarga, dan mahasiswa duduk bersama mengelilingi meja, berbagi cat dan kuas, lalu menghias tas
kain sesuai keinginan masing-masing. Hasilnya beragam, mulai dari gambar bunga yang tersenyum,
ubur-ubur, paus, hingga tomat. Kegiatan ini sengaja dipilih karena bisa dilakukan dengan santai dan
menyesuaikan kemampuan setiap peserta, sehingga pasien yang kondisi fisiknya terbatas pun tetap
dapat ikut serta.

Hasil painting cloth bags yang dibuat bersama oleh pasien, keluarga, dan mahasiswa
Suasana selama kegiatan terasa hangat. Pasien dan keluarga tampak antusias, saling melihat karya satu
sama lain, dan berbincang dengan mahasiswa meskipun berbeda bahasa. Lingkungan Yensira sendiri
memang memungkinkan penghuninya bertemu orang-orang yang menghadapi situasi serupa, berbagi
cara menghadapi masalah, dan mengurangi rasa kesepian. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat
menambah keakraban yang sudah terbangun di antara para penghuni.
Tim menyadari bahwa kunjungan ini tidak menggantikan peran dokter, perawat, maupun psikolog.
Namun, kegiatan sederhana seperti mendengarkan, memberi semangat, dan berkarya bersama dapat
membantu menciptakan suasana yang lebih humanis selama proses pengobatan. Bagi mahasiswa
kedokteran, pengalaman ini juga menjadi pelajaran berharga bahwa sakit tidak hanya soal diagnosis
dan terapi, tetapi juga menyangkut kehidupan sehari-hari, keluarga, dan kebutuhan emosional pasien.
Melalui kedua kegiatan ini, tim berharap pendekatan sederhana berbasis kebersamaan dapat menjadi
contoh dukungan psikososial yang mudah diterapkan, baik di wilayah terdampak banjir maupun di
rumah singgah pasien, termasuk di Indonesia. Kedua kegiatan tidak membutuhkan fasilitas khusus
karena memanfaatkan komunitas yang sudah ada, yaitu pertemuan rutin warga di U-Tapao dan
komunitas penghuni di Yensira. Ke depan, tim menilai kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara
berkala, dilengkapi pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan serta skrining psikologis, dan
melibatkan tenaga kesehatan setempat.
Tim berharap kegiatan sederhana ini dapat menjadi contoh dukungan psikososial berbasis masyarakat
yang mudah diterapkan di wilayah terdampak banjir lainnya. Kegiatan ini tidak membutuhkan
fasilitas khusus karena memanfaatkan kebiasaan warga yang rutin berkumpul. Ke depan, tim menilai
kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkala, dilengkapi pengukuran sebelum dan sesudah
kegiatan serta skrining psikologis, dan melibatkan tenaga kesehatan setempat.
Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan VSA Thailand sebagai mitra pelaksana, Dejavato
Foundation, dan Fakultas Kedokteran UNISMA.

